keluarga sakinah

Oleh: Azha01032008005.jpgri

baitijannati – Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab Kabul, saat itulah segala sesuatu yang haram menjadi halal. Dan bagi orang yang telah menikah dia telah menguasai separuh agamanya.

Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].

Sebuah rumah tangga bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, dinding, genteng, kusen, pintu berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pintu digunakan sebagai pengganti maka rumah akan bocor, atau salah fungsi yang lain maka rumah akan ambruk. Begitu juga rumah tangga suami, istri dan anak harus tahu fungsi masing-masing, jika tidak maka bisa ambruk atau berantakan rumah tangga tersebut.

Mari kita telaah satu persatu masing-masing fungsi suami dan istri tersebut.


Kewajiban Suami

Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).

Suami juga harus mempergauli istrinya dengan baik:

Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).

Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri].

Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.

Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].

Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].


Kewajiban Istri

Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa’i].

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).

Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).

Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].

Perselisihan

Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,

Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).

Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam. (baitijannati.wordpress.com)

 

People comes from children. Orang dewasa berasal dari seorang anak. Semua orang dewasa mengalami masa kanak-kanak. Terlahir, bayi mungil, anak-anak, remaja, dewasa dan terakhir meninggal dunia. Etape demi etape tak akan terlewati dengan selamat tanpa sentuhan “tangan dingin” seorang ibu. 

       Keluarga Samara. Ibu, sosok di belakang layar yang berperan dalam perjalanan hidup seseorang. Ia ada di balik besarnya sebuah nama. Demikian pula sebaliknya. Ibu akan merasa paling bersalah jika anaknya gagal dalam meraih prestasi dalam hidupnya. Sekalipun itu karena kesalahan sang anak sendiri.
Ibu, dialah orang penting yang tahu hampir seluruh urusan keluarga. Semua masalah keluarga mampir di kepalanya. Ibarat kamus atau ensiklopedi, ibu harus mampu membantu si sulung yang sedang garuk-garuk kepala mengerjakan pe-er. Ibu pula yang harus membujuk si bungsu untuk menghabiskan makanannya.
Ibu muncul sebagai sosok yang siap siaga dan serba bisa. Kasih sayang, kelembutan dan perhatiannya menempatkan ibu menjadi sosok yang dibutuhkan seluruh anggota keluarga.
Ibu tak hanya dituntut untuk pandai memasak, tetapi harus cerdik pula untuk memutar uang belanja agar cukup sebulan. Alhasil, ibu harus tune in dengan harga-harga sembako dan berkreasi mencari menu murah, meriah tapi padat gizi. Subhanallah, yang pantas untuk mendapat julukan wanita super sebenarnya adalah ibu, bukan wonder women atau cat women yang bisa jumpalitan itu.

Menikmati Peran 

Meskipun fakta menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang ibu membutuhkan banyak pengorbanan, hampir tak ada seorang wanitapun yang enggan untuk menjadi seorang ibu. Saat seorang wanita menginjak masa untuk menikah, ia akan merasa gelisah jika belum datang jua seorang lelaki untuk meminang.
Kegelisahan itu, salah satunya didorong oleh keinginannya untuk segera bisa menimang buah hati. Demikian pula, tak ada seorang ibu yang normal yang menyesal telah melahirkan dan memiliki anak. Wajar, bila orang menganggap belumlah sempurna seorang wanita bila belum menjadi seorang ibu.
Maha Besar Allah yang telah mengkaruniakan naluri memiliki keturunan (Gharizah an-Nau’) pada setiap manusia. Naluri inilah yang mendorong seseorang untuk tertarik kepada lawan jenis, sayang kepada anak-anak, seorang wanita memiliki rasa keibuan, seorang laki-laki memiliki rasa kebapakan, dorongan untuk membina rumah tangga, dan menikmati segala pernik-pernik masalahnya.
Lantas apa yang salah, jika pada kenyataan sering kita mendengar, melihat dan membaca kabar tentang tindak kejahatan yang terjadi dalam sebuah keluarga? Ada ibu yang tega membuang bayinya ke tong sampah atau menjual kegadisan anak pera-wannya. Ibu tega mencekik mati anak sendiri karena sang ayah tak bertanggung jawab dan masih banyak lagi kejadian tragis yang tak masuk akal.
Kemana larinya fitrah mulia yang dikaruniakan Allah itu? Kalau bukan karena si ibu sakit jiwa, pasti ada permasalahan yang tak mampu ditanggungnya. Ada yang berpangkal pada masalah materi, karena terhimpit hutang, atau bahkan sekadar mengejar uang dan menghamba pada harta. Akhirnya, prinsip hidup materialistik itu menjerumuskan mereka untuk menghalalkan segala cara demi mendapat-kan kenikmatan dunia.
Jika prinsip hidup materialistik itu mampu ditepiskan, fitrah seorang ibu akan kembali mengambil peranan. Dalam keadaan yang benar dan kondusif, seorang wanita akan muncul sebagai sosok yang lembut, keibuan dan mampu menebarkan kasih sayang serta keanggunannya bagi anak-anak dan keluarga. Dengan fitrahnya, dia akan dengan senang hati dan penuh pengorbanan mengatur ru-mah, melayani suami dan mendidik anak-anaknya. Bukan sebaliknya.

Profesi Sarat Tantangan

Menjalani peran ibu yang ideal tidaklah mudah. Pemaham-an materialistik telah menggeser nilai fungsi ibu dari mulia menjadi kuno dan tak berharga. Hamil, menyusui, mema-sak, mengatur rumah, melayani suami dianggap sebagai pekerjaan tradisional yang tak produktif.
Seorang ibu rumah tangga dianggap tidak produktif bila hanya bisa bikin anak dan melulu mengurus anak, suami dan rumah. Hanya para wanita yang pandai mencari uang atau berkarir lah yang dianggap wanita produktif.
Persepsi masyarakat seperti di atas yang menumbuhkan pe-rasaan “tak ber-guna” jika hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Para ibu terkadang masih bisa berkompromi dengan keletihan psikis dan fisik yang dialami dalam menjalankan perannya di rumah. Tetapi gengsi serta gaya hidup yang sedang in di masyarakat tak mudah untuk dihindari. Apalagi jika semua sepakat bahwa wanita berkarier lebih baik daripada ibu rumah tangga.
Pemahaman yang salah tersebut perlu disingkirkan dari masyarakat. Bila tidak, maka akan semakin langka wanita yang tertarik dan bangga menjadi seorang ibu rumah tangga. Meskipun hanya terlihat “begitu-begitu saja” menjadi seorang ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang. Suatu saat, ia bisa berperan sebagai pembantu yang tak pernah berhenti merapikan rumah. Ia juga berperan sebagai ibu yang harus melindungi dan merawat, serta guru yang mendidik anak-anak. Di saat lain, ia harus tampil laksana bidadari bagi sang suami dan melayani seluruh kebutuhannya.
Masalah yang harus diluruskan adalah kerancuan pemahaman tentang fungsi ibu. Seolah ibu bekerja tak akan dapat menjalankan fungsi ibu idola, atau sebaliknya ibu rumah tangga tak akan bisa menjadi ibu produktif.
Sejatinya, ibu yang bekerja akan tetap bisa menjalankan fungsi ibu dalam keluarganya, asalkan dia pandai mengatur waktu dan memilih prioritas pekerjaan secara benar. Tentu wanita bekerja di kantor dan full time lebih berat tantangannya karena dia harus menekuni dua profesi yang sama-sama harus dipertanggungjawabkan.
Tugas seorang ibu, dewasa ini semakin bertambah berat. Paham materialisme dan konsumerisme mendorong kebutuhan hidup terus meningkat, sementara tantangan pergaulan modern mengancam kehidupan anak-anak. Sebagai akaibatnya, pilihan bagi seorang ibu untuk bekerja, menjadi ibu rumah tangga atau kombinasi keduanya menjadi semakin sulit dan berat.
Masalah profesionalitas tak hanya diperlukan untuk membangun karier di dunia publik. Menjadi ibu juga butuh profesionalitas. Sebagai ibu, ia harus berusaha keras agar anak-anaknya sukses di dunia dan akhirat kelak.
Anak yang sukses adalah anak yang salih, kuat iman, ilmu dan amalnya. Anak yang bisa menolong kedua orang tuanya dari sentuhan api neraka karena doanya dikabulkan oleh Allah. Anak adalah aset masa depan kedua orang tuanya. Kepada anaklah kita bisa banyak berharap untuk hari tua kita. Jadi, mendidik anak adalah sebuah rintisan masa depan.
Ibu harus memikirkan bekal hidup bagi anak-anaknya untuk menghadapi tantangan jaman. Asupan makanan bergizi, pendidikan bermutu tinggi, lingkungan sehat dan kondusif dan sarana prasarana lain yang dibutuhkan. Semua membutuhkan kerja keras, trik-trik yang jitu dan cerdas.
Mengatur rumah tangga juga bu-kan perkara mudah, ibu harus berusaha keras menjadikan rumahnya laksana surga. Rumah yang bisa memberikan ketenangan bagi semua ang-gota keluarganya setelah seharian beraktivitas di luar rumah.
Ketenangan yang dituntut adalah ketenangan lahir dan batin. Rumah bersih, teratur dan nyaman sekalipun tidak luas ataupun mewah akan memberikan ketenangan. Apalagi jika ditunjang hubungan yang harmonis antara anggota keluarga Untuk itu, seorang ibu dituntut tampil rapi, bersikap tela-ten dan ulet.
Semua pekerjaan sebagai seorang ibu sesuai fungsinya yang seabreg itu memang berat, tetapi bukan berarti tak bisa dinikmati. Ibu yang ikhlas me-lakukannya untuk beribadah kepada Allah, pasti merasakan nikmat yang luar biasa. Sekalipun tak ada imbalan uang atau kemegahan, surga selalu tampak di pelupuk matanya.

Tantangan Sosial

Kenyataannya, dunia di luar rumah tak seramah dan sesantun seperti yang dibina seorang ibu di dalam rumah. Nilai-nilai aqidah, moral dan budi pekerti luhur bisa hancur dalam sesaat. Lingkungan yang ada bukan ladang yang subur untuk pertumbuhan generasi seperti apa yang ia idamkan.
Pergaulan bebas, pornografi, ke-kerasan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan aneka kerusakan lainnya megancam di mana-mana. Nilai kebenaran yang ditemui terkadang bertolak belakang dengan apa yang telah ditanamkan ibu.
Masyarakat tidak memiliki kesepakatan untuk mengatur dan mendidik keluarga dengan dasar-dasar Islam. Sebagian besar ibu masih menganggap kesuksesan anak dengan ukuran materi. Ilmu OK, namun iman KO. Tehnologi yahud; keingkaran akut. Maka yang nampak adalah anak-anak yang egois, materialistis, tak bermoral dan jauh dari tuntutan agama.
Standard yang berbeda ini menghasilkan anak dengan karakter yang berbeda. Celakanya, anak de-ngan didikan bukan dari nilai-nilai Islam lebih banyak jumlahnya dibandingkan anak “Islami”. Mereka menjadi bagian yang dominan dan didukung oleh lingkungan.
Wajar jika banyak orang tua yang khawatir. Ibarat memasukkan bibit ikan ke dalam kolam keruh yang penuh dengan kotoran dan ikan berpenyakit, tak ayal, bibit ikan pun akan tumbuh menjadi ikan berpenyakit.
Melarang anak untuk bergaul de-ngan lingkungan sekitarnya, adalah sebuah solusi yang muskil. Di dalam rumahpun, ancaman degradasi keimanan juga dapat ditemui melalui tayangandi layar televisi. Maka, Ibu perlu berdakwah untuk menyadarkan masyarakat bahwa mereka membutuhkan kesepakatan demi membentuk lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan anak-anak. Kesepakatan yang didasarkan oleh sebenar-benarnya ajaran, yakni Islam. (www.keluarga-samara.com)

                           mendidik anak yang soleha

People comes from children. Orang dewasa berasal dari seorang anak. Semua orang dewasa mengalami masa kanak-kanak. Terlahir, bayi mungil, anak-anak, remaja, dewasa dan terakhir meninggal dunia. Etape demi etape tak akan terlewati dengan selamat tanpa sentuhan “tangan dingin” seorang ibu. 

       Keluarga Samara. Ibu, sosok di belakang layar yang berperan dalam perjalanan hidup seseorang. Ia ada di balik besarnya sebuah nama. Demikian pula sebaliknya. Ibu akan merasa paling bersalah jika anaknya gagal dalam meraih prestasi dalam hidupnya. Sekalipun itu karena kesalahan sang anak sendiri.
Ibu, dialah orang penting yang tahu hampir seluruh urusan keluarga. Semua masalah keluarga mampir di kepalanya. Ibarat kamus atau ensiklopedi, ibu harus mampu membantu si sulung yang sedang garuk-garuk kepala mengerjakan pe-er. Ibu pula yang harus membujuk si bungsu untuk menghabiskan makanannya.
Ibu muncul sebagai sosok yang siap siaga dan serba bisa. Kasih sayang, kelembutan dan perhatiannya menempatkan ibu menjadi sosok yang dibutuhkan seluruh anggota keluarga.
Ibu tak hanya dituntut untuk pandai memasak, tetapi harus cerdik pula untuk memutar uang belanja agar cukup sebulan. Alhasil, ibu harus tune in dengan harga-harga sembako dan berkreasi mencari menu murah, meriah tapi padat gizi. Subhanallah, yang pantas untuk mendapat julukan wanita super sebenarnya adalah ibu, bukan wonder women atau cat women yang bisa jumpalitan itu.

Menikmati Peran 

Meskipun fakta menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang ibu membutuhkan banyak pengorbanan, hampir tak ada seorang wanitapun yang enggan untuk menjadi seorang ibu. Saat seorang wanita menginjak masa untuk menikah, ia akan merasa gelisah jika belum datang jua seorang lelaki untuk meminang.
Kegelisahan itu, salah satunya didorong oleh keinginannya untuk segera bisa menimang buah hati. Demikian pula, tak ada seorang ibu yang normal yang menyesal telah melahirkan dan memiliki anak. Wajar, bila orang menganggap belumlah sempurna seorang wanita bila belum menjadi seorang ibu.
Maha Besar Allah yang telah mengkaruniakan naluri memiliki keturunan (Gharizah an-Nau’) pada setiap manusia. Naluri inilah yang mendorong seseorang untuk tertarik kepada lawan jenis, sayang kepada anak-anak, seorang wanita memiliki rasa keibuan, seorang laki-laki memiliki rasa kebapakan, dorongan untuk membina rumah tangga, dan menikmati segala pernik-pernik masalahnya.
Lantas apa yang salah, jika pada kenyataan sering kita mendengar, melihat dan membaca kabar tentang tindak kejahatan yang terjadi dalam sebuah keluarga? Ada ibu yang tega membuang bayinya ke tong sampah atau menjual kegadisan anak pera-wannya. Ibu tega mencekik mati anak sendiri karena sang ayah tak bertanggung jawab dan masih banyak lagi kejadian tragis yang tak masuk akal.
Kemana larinya fitrah mulia yang dikaruniakan Allah itu? Kalau bukan karena si ibu sakit jiwa, pasti ada permasalahan yang tak mampu ditanggungnya. Ada yang berpangkal pada masalah materi, karena terhimpit hutang, atau bahkan sekadar mengejar uang dan menghamba pada harta. Akhirnya, prinsip hidup materialistik itu menjerumuskan mereka untuk menghalalkan segala cara demi mendapat-kan kenikmatan dunia.
Jika prinsip hidup materialistik itu mampu ditepiskan, fitrah seorang ibu akan kembali mengambil peranan. Dalam keadaan yang benar dan kondusif, seorang wanita akan muncul sebagai sosok yang lembut, keibuan dan mampu menebarkan kasih sayang serta keanggunannya bagi anak-anak dan keluarga. Dengan fitrahnya, dia akan dengan senang hati dan penuh pengorbanan mengatur ru-mah, melayani suami dan mendidik anak-anaknya. Bukan sebaliknya.

Profesi Sarat Tantangan

Menjalani peran ibu yang ideal tidaklah mudah. Pemaham-an materialistik telah menggeser nilai fungsi ibu dari mulia menjadi kuno dan tak berharga. Hamil, menyusui, mema-sak, mengatur rumah, melayani suami dianggap sebagai pekerjaan tradisional yang tak produktif.
Seorang ibu rumah tangga dianggap tidak produktif bila hanya bisa bikin anak dan melulu mengurus anak, suami dan rumah. Hanya para wanita yang pandai mencari uang atau berkarir lah yang dianggap wanita produktif.
Persepsi masyarakat seperti di atas yang menumbuhkan pe-rasaan “tak ber-guna” jika hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Para ibu terkadang masih bisa berkompromi dengan keletihan psikis dan fisik yang dialami dalam menjalankan perannya di rumah. Tetapi gengsi serta gaya hidup yang sedang in di masyarakat tak mudah untuk dihindari. Apalagi jika semua sepakat bahwa wanita berkarier lebih baik daripada ibu rumah tangga.
Pemahaman yang salah tersebut perlu disingkirkan dari masyarakat. Bila tidak, maka akan semakin langka wanita yang tertarik dan bangga menjadi seorang ibu rumah tangga. Meskipun hanya terlihat “begitu-begitu saja” menjadi seorang ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang. Suatu saat, ia bisa berperan sebagai pembantu yang tak pernah berhenti merapikan rumah. Ia juga berperan sebagai ibu yang harus melindungi dan merawat, serta guru yang mendidik anak-anak. Di saat lain, ia harus tampil laksana bidadari bagi sang suami dan melayani seluruh kebutuhannya.
Masalah yang harus diluruskan adalah kerancuan pemahaman tentang fungsi ibu. Seolah ibu bekerja tak akan dapat menjalankan fungsi ibu idola, atau sebaliknya ibu rumah tangga tak akan bisa menjadi ibu produktif.
Sejatinya, ibu yang bekerja akan tetap bisa menjalankan fungsi ibu dalam keluarganya, asalkan dia pandai mengatur waktu dan memilih prioritas pekerjaan secara benar. Tentu wanita bekerja di kantor dan full time lebih berat tantangannya karena dia harus menekuni dua profesi yang sama-sama harus dipertanggungjawabkan.
Tugas seorang ibu, dewasa ini semakin bertambah berat. Paham materialisme dan konsumerisme mendorong kebutuhan hidup terus meningkat, sementara tantangan pergaulan modern mengancam kehidupan anak-anak. Sebagai akaibatnya, pilihan bagi seorang ibu untuk bekerja, menjadi ibu rumah tangga atau kombinasi keduanya menjadi semakin sulit dan berat.
Masalah profesionalitas tak hanya diperlukan untuk membangun karier di dunia publik. Menjadi ibu juga butuh profesionalitas. Sebagai ibu, ia harus berusaha keras agar anak-anaknya sukses di dunia dan akhirat kelak.
Anak yang sukses adalah anak yang salih, kuat iman, ilmu dan amalnya. Anak yang bisa menolong kedua orang tuanya dari sentuhan api neraka karena doanya dikabulkan oleh Allah. Anak adalah aset masa depan kedua orang tuanya. Kepada anaklah kita bisa banyak berharap untuk hari tua kita. Jadi, mendidik anak adalah sebuah rintisan masa depan.
Ibu harus memikirkan bekal hidup bagi anak-anaknya untuk menghadapi tantangan jaman. Asupan makanan bergizi, pendidikan bermutu tinggi, lingkungan sehat dan kondusif dan sarana prasarana lain yang dibutuhkan. Semua membutuhkan kerja keras, trik-trik yang jitu dan cerdas.
Mengatur rumah tangga juga bu-kan perkara mudah, ibu harus berusaha keras menjadikan rumahnya laksana surga. Rumah yang bisa memberikan ketenangan bagi semua ang-gota keluarganya setelah seharian beraktivitas di luar rumah.
Ketenangan yang dituntut adalah ketenangan lahir dan batin. Rumah bersih, teratur dan nyaman sekalipun tidak luas ataupun mewah akan memberikan ketenangan. Apalagi jika ditunjang hubungan yang harmonis antara anggota keluarga Untuk itu, seorang ibu dituntut tampil rapi, bersikap tela-ten dan ulet.
Semua pekerjaan sebagai seorang ibu sesuai fungsinya yang seabreg itu memang berat, tetapi bukan berarti tak bisa dinikmati. Ibu yang ikhlas me-lakukannya untuk beribadah kepada Allah, pasti merasakan nikmat yang luar biasa. Sekalipun tak ada imbalan uang atau kemegahan, surga selalu tampak di pelupuk matanya.

Tantangan Sosial

Kenyataannya, dunia di luar rumah tak seramah dan sesantun seperti yang dibina seorang ibu di dalam rumah. Nilai-nilai aqidah, moral dan budi pekerti luhur bisa hancur dalam sesaat. Lingkungan yang ada bukan ladang yang subur untuk pertumbuhan generasi seperti apa yang ia idamkan.
Pergaulan bebas, pornografi, ke-kerasan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan aneka kerusakan lainnya megancam di mana-mana. Nilai kebenaran yang ditemui terkadang bertolak belakang dengan apa yang telah ditanamkan ibu.
Masyarakat tidak memiliki kesepakatan untuk mengatur dan mendidik keluarga dengan dasar-dasar Islam. Sebagian besar ibu masih menganggap kesuksesan anak dengan ukuran materi. Ilmu OK, namun iman KO. Tehnologi yahud; keingkaran akut. Maka yang nampak adalah anak-anak yang egois, materialistis, tak bermoral dan jauh dari tuntutan agama.
Standard yang berbeda ini menghasilkan anak dengan karakter yang berbeda. Celakanya, anak de-ngan didikan bukan dari nilai-nilai Islam lebih banyak jumlahnya dibandingkan anak “Islami”. Mereka menjadi bagian yang dominan dan didukung oleh lingkungan.
Wajar jika banyak orang tua yang khawatir. Ibarat memasukkan bibit ikan ke dalam kolam keruh yang penuh dengan kotoran dan ikan berpenyakit, tak ayal, bibit ikan pun akan tumbuh menjadi ikan berpenyakit.
Melarang anak untuk bergaul de-ngan lingkungan sekitarnya, adalah sebuah solusi yang muskil. Di dalam rumahpun, ancaman degradasi keimanan juga dapat ditemui melalui tayangandi layar televisi. Maka, Ibu perlu berdakwah untuk menyadarkan masyarakat bahwa mereka membutuhkan kesepakatan demi membentuk lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan anak-anak. Kesepakatan yang didasarkan oleh sebenar-benarnya ajaran, yakni Islam. (www.keluarga-samara.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: